Selasa, 22 Juli 2014

Senyum Indah Mu



SENYUM INDAH MU

          Kring-kring jam weker Kira berbunyi tepat jam 06.00 pagi. Saat itu Kira masih tertidur lelap, “ Kira, bangun de sudah pagi kan hari ini hari pertama masuk sekolah “ kakak Kira membangun kan adik nya yang masih tidur. Kira yang masih ngantuk menjawab “ jam berapa sekarang kak ? “ kakak kira menjawab “ jam 06.00 pagi “ Kira yang masih berada di atas tempat tidur nya langsung loncat sambil menatap jam weker milik nya. “ kok gak ada yang bangunin aku sih kalo sudah jam segini, aku kan belum nyiapin peralatan sekolah. Masa baru masuk sudah terlambat sih -_- “ .
          Jam 07.00 Kira siap berangkat ke sekolah barunya, tepat hari ini Kira sudah menjadi siswi SMA N 1 Jakarta, sekolah paling favorit di daerah tempat tinggal Kira yang selalu ia impikan sejak dia masih di SMP. Kira berangkat menggunakan motor kesayangan nya .
          Oh iya, nama ku Kira Anggraini anak ke dua dari dua bersaudara bisa di bilang anak paling manja , hehehe.. Nama kakak ku Rima Yuanita, dia sekolah di Universitas ternama di Jakarta dan beberapa waktu lalu ia baru menyelsai kan S1 nya. Di mulai hari ini aku  sudah jadi anak putih abu-abu dan memulai menjadi anak SMA bukan anak SMP lagi.
          Hari-hari ku menjadi anak SMA sangat menyenangkan, dapat teman baru , kakak kelasnya juga ramah-ramah. Tapi ada satu kakak kelas yang bikin setiap orang yang belum mengenal nya jadi penasaran, entah karna dia jutek, sombong atau dia cool. Tapi di situlah aku mulai tertarik dan terus memperhatikan dia. Pada suatu hari, aku sedang membawa buku dari perpustakaan yang akan di bagikan setiap siswa di kelas ku. Tiba-tiba sesosok laki-laki menabrak ku tanpa sengaja dan menjatuhkan buku-buku yang sedang ku bawa “ upsss, sorry “ sambil menyusun kembali buku-buku yang jatuh dan menyerahkan nya kepadaku. “ maaf ya, tadi buru-buru soalnya ‘’ dengan muka polos aku menjawab “ iya kak gak papa kok, aku juga yang salah soalnya gak liat jalan, maaf ya kk “ dia menjawab “ iya aku juga salah kok , hehehe “ lalu pergi meninggalkan ku dengan senyuman kecil manis nya. Sejenak aku terus memperhatikan nya sampai ia hilang setelah di belokan menuju kantin sekolah.
          Keesokan harinya, Kira menuju kelas nya bersama Dita teman sebangku Kira. Tanpa sengaja Kira berpapasan dengan laki-laki yang menabrak dia kemarin. Laki-laki itu berjalan sambil melihat Kira dan tersenyum kecil “kir, kamu kenal cowok yang tadi ? “ kira menjawab “ enggak dit, kemarin dia cuman nabrak aku di lorong pas bawa buku dari perpustakaan. Kenapa emangnya ? “ Dita menjawab “ dia kan Dimas anak basket, yang paling populer di sekolah ini, banyak cewek-cewek yang suka sama dia loh, tapi gak di heranin. “ Kira menjawab “ oh gitu ya “ sambil menatap laki-laki itu berjalan bersama teman-temannya.
          Kring-kring bel sekolah berbunyi waktunya semua jam pelajaran telah selesai. Kira dan teman-teman nya keluar dari kelas sambil bercanda. Kira yang tinggal sendiri di depan gerbang sekolah sedang menunggu jemputannya, tiba-tiba seseorang laki-laki menghampirinya “ yang kemarin itu ya ? “ Dimas sambil menepuk lengan kira “ iya kk, masih ingat aja  hehehe “. “ oh ya nama mu siapa de ? “ tanya Dimas kepada Kira yang sedang menunggu jemputan . “ nama ku Kira Anggraini kk, bisa di panggil kira. Kalo kakak nama nya siapa ? sambil mengacungkan tangan nya. “ nama ku Dimas Anggara de, anak-anak biasanya manggil aku Dimas, oh ya sorry ya buat yang kemarin itu “ dan lagi sambil tersenyum dengan senyumnya yang manis itu.
          Sejak perkenalan kemarin itu hubungan mereka tambah dekat yang tadi nya cuman saling melihat, sekarang mereka sudah sering jalan bersama, mengerjakan tugas bersama-sama. Kedekatan mereka membuat cewek-cewek menjadi iri kepada Kira yang masih kelas 1. Pada suatu hari Dimas mengajak Kira ke toko buku dekat rumah Dimas. Di perjalanan kira  bertanya kepada Dimas “ kak, kita emangnya mau beli buku apaan sih ? “ Dimas menjawab “ udah liatn aja nanti Kir jangan banyak protes deh “ Kira menjawab “ sip pak bos “ sambil mengencangkan pegangannya ke Dimas.
          Setelah sampai di toko buku, Dimas menggandeng tangan Kira hingga masuk ke dalam toko buku tersebut. Kira yang asik-asik sedang melihat beberapa buku, tiba-tiba Dimas datang membawa sebuah buku yang berjudul Senyuman Kecil Indah Mu “ ni buat mu Kira “ Kira cuman bisa diam dan melihat buku bergantian melihat Dimas. “Kir, sebenernya … emm “ “sebenernya apa kk ? “ “ sebenernya aku suka sama kamu “ mata Kira melotot dan jantung nya hampir copot gara-gara kejadian tersebut. “ udah lama pengen ngomong ini ke kamu, tapi aku takut kalo kamu nolak aku terus menjauh “ kata Dimas “ ini gak bohongan kan kk ? “ cletuk Kira yang gak percaya “ enggak de, ini beneran coba deh cubit tangan ade, kalo sakit beneran tuh “ dan mereka pun tertawa bersama-sama. “ iya kak sakit, hehehe. Emm sebenernya aku juga suka sama kakak semenjak kakak nabrak aku di lorong waktu itu “ Kira menjawab.
          Semenjak hari itu, mereka selalu jalan berdua, kekantin berdua, dll. Semua yang mereka lakukan terasa indah ketika di lakukan bersama. Mereka berdua saling menerima apa adanya. Tidak ada yang perlu mereka tutupi satu sama lain karna, kepercayaan dan saling pengertian adalah kunci sebuah kesetiaan.
          Namun pada suatu hari, Dimas mengajak Kira jalan ke sebuah danau dekat sekolah mereka. Dimas mengakatan akan pergi meninggalkan Indonesia karna dia harus ikut dengan orang tuanya yang di tugas kan di Jerman. Seketika Kira meneteskan air matanya, entah karna ia takut di tinggal pergi oleh Dimas atau takut akan kehilangan cintanya. Ketakutan ini membuat Kira tambah menangis. “ Kira, udah de jangan nangis entar kalo ada waktu kakak pasti balik kok ke sini “ Dimas yang sibuk menenangkan Kira yang terus menangis. “ tapi kakak janji ya bakal ke sini lagi ? “ tanya kira “ iya de kakak pasti balik lagi kok, tunggu kakak ya “ jawab Dimas. Setelah menenang kann Kira, Dimas mengantar Kira pulang. Sebelum Dimas pulang ke rumah Dimas berkata kepada Kira “ besok kita ketemu di danau ya, ada sesuatu yang mau ku kasih buat ade sekalian perpisahan buat kita. Oke, jam  siang ya “ Kira menjawab “ iya kakak, hati-hati di jalan ya “ Dimas hanya membalas dengan senyuman manis nya itu.
          Keesokan harinya tepat di tanggal 26 Juli 2013, Kira bersiap-siap untuk berangkat ke danau dan Dimas pun juga begitu. Kira yang pergi dengan menggunakan taksi pergi ke danau sedangkan Dimas pergi dengan menggunakan motor kesayangannya. Kira yang datang lebih dulu menunggu di pinggir danau sambil membawa buku yang di kasih oleh Dimas untuk Kira. Kira menatap buku tersebut sambil membuka-buka buku tersebut dan tepat di halaman terakhir dan Kira melihat tanda tangan Dimas dan ia menulis I’m Always There For You Kira .  Kira seketika menangis meliahat tulisan itu, mungkin karna ia tidak rela untuk di tinggal pergi oleh Dimas.
          Dua jam Kira sudah menunggu Dimas yang tidak kunjung datang dimas tidak pernah terlambat, padahal hari sudah mendung. Kira sudah beberapa kali menelpon Dimas tapi tidak juga di jawab. Dan akhir hujan pun turun, membasahi wajah Kira yang manis dan buku yang di bawa oleh Kira. Tiba-tiba telpon kira berbunyi kring-kring telpon dari Dimas “ halo kakak, kak Dimas dimana ? “ jawab Kira “ maaf yang punya telpon ini kecelakaan  segera ke rumah sakit Dwi Satya “ seseorang yang menelpon Kira. Kira langsung terduduk dan kakinya lemas gara-gara mendapat telpon tersebut. Kira sudah tidak dapat membendung air matanya, ia menangis sekencang kencang nya dan Kira berlari mencari taksi untuk ke rumah sakit melihat Dimas walaupun seluruh tubuh Kira sudah basah kuyup karna hujan.
          Setelah sampai di rumah sakit, Kira melihat Dimas di bawa ke ruang UGD dengan berlumuran darah. Ternyata Dimas sebelum berangkat ke danau ia lupa untuk mengecek motornya, dan ternyata rem motor nya tersebut blong. Kira duduk terdiam melihat dokter memasang alat-alat ke tubuh Dimas. Setelah dokter memasang alat-alat tersebut, dokter menyuruh Kira untuk masuk ke dalam karena perintah Dimas. Kira masuk ke dalam ruang UGD dengan tangan gemetar sambil menangis menatap Dimas dan langsung memegang tangannya. “apa yang sakit kk ? “ Kira bertanya sambil menangis “ Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya lalu Dimas menunjuk kotak yang berada di sebelah nya. “ apa itu kak ? “ Kira langsung mengambil kotak tersebut dan membukanya, dan ternyata isinya sebuah diary dan gelang untuk Kira. Kira tambah menangis setelah melihat nya. Kira mengelus-ngelus kepala Dimas dan Dimas memegang tangan Kira dengan erat. Sejenak Kira melihat Dimas menatapnya dengan penuh kasih namun Allah berkehendak lain, ia lebih sayang kepada Dimas. Genggaman Dimas mulai melemah dan terlepas, Kira tidak menangis lagi mungkin air matanya telah habis dan tidak bisa berkata-kata apalagi.
          Seminggu setelah Dimas pergi, gak ada lagi yang menabrak nya saat membawa buku dari perpustakaan, gak ada lagi yang ngajak ke toko buku, gak ada lagi yang ngajak ke danau, dan gak ada lagi yang menyapaku dengan senyum manis mu itu.

Thanks for everything
Thanks for everyone
Thanks for always there for me :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar