SENYUM INDAH
MU
Kring-kring jam weker Kira berbunyi tepat jam 06.00 pagi.
Saat itu Kira masih tertidur lelap, “ Kira, bangun de sudah pagi kan hari ini
hari pertama masuk sekolah “ kakak Kira membangun kan adik nya yang masih
tidur. Kira yang masih ngantuk menjawab “ jam berapa sekarang kak ? “ kakak
kira menjawab “ jam 06.00 pagi “ Kira yang masih berada di atas tempat tidur
nya langsung loncat sambil menatap jam weker milik nya. “ kok gak ada yang
bangunin aku sih kalo sudah jam segini, aku kan belum nyiapin peralatan
sekolah. Masa baru masuk sudah terlambat sih -_- “ .
Jam 07.00 Kira siap berangkat ke sekolah barunya, tepat
hari ini Kira sudah menjadi siswi SMA N 1 Jakarta, sekolah paling favorit di
daerah tempat tinggal Kira yang selalu ia impikan sejak dia masih di SMP. Kira
berangkat menggunakan motor kesayangan nya .
Oh iya, nama ku Kira Anggraini anak ke dua dari dua
bersaudara bisa di bilang anak paling manja , hehehe.. Nama kakak ku Rima
Yuanita, dia sekolah di Universitas ternama di Jakarta dan beberapa waktu lalu ia baru
menyelsai kan S1 nya. Di mulai hari ini aku
sudah jadi anak putih abu-abu dan memulai menjadi anak SMA bukan anak
SMP lagi.
Hari-hari ku menjadi anak SMA sangat menyenangkan, dapat
teman baru , kakak kelasnya juga ramah-ramah. Tapi ada satu kakak kelas yang
bikin setiap orang yang belum mengenal nya jadi penasaran, entah karna dia
jutek, sombong atau dia cool. Tapi di situlah aku mulai tertarik dan terus
memperhatikan dia. Pada suatu hari, aku sedang membawa buku dari perpustakaan
yang akan di bagikan setiap siswa di kelas ku. Tiba-tiba sesosok laki-laki
menabrak ku tanpa sengaja dan menjatuhkan buku-buku yang sedang ku bawa “
upsss, sorry “ sambil menyusun kembali buku-buku yang jatuh dan menyerahkan nya
kepadaku. “ maaf ya, tadi buru-buru soalnya ‘’ dengan muka polos aku menjawab “
iya kak gak papa kok, aku juga yang salah soalnya gak liat jalan, maaf ya kk “
dia menjawab “ iya aku juga salah kok , hehehe “ lalu pergi meninggalkan ku
dengan senyuman kecil manis nya. Sejenak aku terus memperhatikan nya sampai ia
hilang setelah di belokan menuju kantin sekolah.
Keesokan harinya, Kira menuju kelas nya bersama Dita teman
sebangku Kira. Tanpa sengaja Kira berpapasan dengan laki-laki yang menabrak dia
kemarin. Laki-laki itu berjalan sambil melihat Kira dan tersenyum kecil “kir,
kamu kenal cowok yang tadi ? “ kira menjawab “ enggak dit, kemarin dia cuman
nabrak aku di lorong pas bawa buku dari perpustakaan. Kenapa emangnya ? “ Dita
menjawab “ dia kan Dimas anak basket, yang paling populer di sekolah ini,
banyak cewek-cewek yang suka sama dia loh, tapi gak di heranin. “ Kira menjawab
“ oh gitu ya “ sambil menatap laki-laki itu berjalan bersama teman-temannya.
Kring-kring bel sekolah berbunyi waktunya semua jam
pelajaran telah selesai. Kira dan teman-teman nya keluar dari kelas sambil
bercanda. Kira yang tinggal sendiri di depan gerbang sekolah sedang menunggu
jemputannya, tiba-tiba seseorang laki-laki menghampirinya “ yang kemarin itu ya
? “ Dimas sambil menepuk lengan kira “ iya kk, masih ingat aja hehehe “. “ oh ya nama mu siapa de ? “ tanya
Dimas kepada Kira yang sedang menunggu jemputan . “ nama ku Kira Anggraini kk,
bisa di panggil kira. Kalo kakak nama nya siapa ? sambil mengacungkan tangan
nya. “ nama ku Dimas Anggara de, anak-anak biasanya manggil aku Dimas, oh ya
sorry ya buat yang kemarin itu “ dan lagi sambil tersenyum dengan senyumnya
yang manis itu.
Sejak perkenalan kemarin itu hubungan mereka tambah dekat
yang tadi nya cuman saling melihat, sekarang mereka sudah sering jalan bersama,
mengerjakan tugas bersama-sama. Kedekatan mereka membuat cewek-cewek menjadi
iri kepada Kira yang masih kelas 1. Pada suatu hari Dimas mengajak Kira ke toko
buku dekat rumah Dimas. Di perjalanan kira
bertanya kepada Dimas “ kak, kita emangnya mau beli buku apaan sih ? “
Dimas menjawab “ udah liatn aja nanti Kir jangan banyak protes deh “ Kira
menjawab “ sip pak bos “ sambil mengencangkan pegangannya ke Dimas.
Setelah sampai di toko buku, Dimas menggandeng tangan Kira
hingga masuk ke dalam toko buku tersebut. Kira yang asik-asik sedang melihat
beberapa buku, tiba-tiba Dimas datang membawa sebuah buku yang berjudul
Senyuman Kecil Indah Mu “ ni buat mu Kira “ Kira cuman bisa diam dan melihat
buku bergantian melihat Dimas. “Kir, sebenernya … emm “ “sebenernya apa kk ? “
“ sebenernya aku suka sama kamu “ mata Kira melotot dan jantung nya hampir
copot gara-gara kejadian tersebut. “ udah lama pengen ngomong ini ke kamu, tapi
aku takut kalo kamu nolak aku terus menjauh “ kata Dimas “ ini gak bohongan kan
kk ? “ cletuk Kira yang gak percaya “ enggak de, ini beneran coba deh cubit
tangan ade, kalo sakit beneran tuh “ dan mereka pun tertawa bersama-sama. “ iya
kak sakit, hehehe. Emm sebenernya aku juga suka sama kakak semenjak kakak
nabrak aku di lorong waktu itu “ Kira menjawab.
Semenjak hari itu, mereka selalu jalan berdua, kekantin
berdua, dll. Semua yang mereka lakukan terasa indah ketika di lakukan bersama.
Mereka berdua saling menerima apa adanya. Tidak ada yang perlu mereka tutupi
satu sama lain karna, kepercayaan dan saling pengertian adalah kunci sebuah
kesetiaan.
Namun pada suatu hari, Dimas mengajak Kira jalan ke sebuah
danau dekat sekolah mereka. Dimas mengakatan akan pergi meninggalkan Indonesia
karna dia harus ikut dengan orang tuanya yang di tugas kan di Jerman. Seketika
Kira meneteskan air matanya, entah karna ia takut di tinggal pergi oleh Dimas
atau takut akan kehilangan cintanya. Ketakutan ini membuat Kira tambah
menangis. “ Kira, udah de jangan nangis entar kalo ada waktu kakak pasti balik
kok ke sini “ Dimas yang sibuk menenangkan Kira yang terus menangis. “ tapi
kakak janji ya bakal ke sini lagi ? “ tanya kira “ iya de kakak pasti balik
lagi kok, tunggu kakak ya “ jawab Dimas. Setelah menenang kann Kira, Dimas
mengantar Kira pulang. Sebelum Dimas pulang ke rumah Dimas berkata kepada Kira
“ besok kita ketemu di danau ya, ada sesuatu yang mau ku kasih buat ade
sekalian perpisahan buat kita. Oke, jam
siang ya “ Kira menjawab “ iya kakak, hati-hati di jalan ya “ Dimas
hanya membalas dengan senyuman manis nya itu.
Keesokan harinya tepat di tanggal 26 Juli 2013, Kira
bersiap-siap untuk berangkat ke danau dan Dimas pun juga begitu. Kira yang
pergi dengan menggunakan taksi pergi ke danau sedangkan Dimas pergi dengan
menggunakan motor kesayangannya. Kira yang datang lebih dulu menunggu di
pinggir danau sambil membawa buku yang di kasih oleh Dimas untuk Kira. Kira
menatap buku tersebut sambil membuka-buka buku tersebut dan tepat di halaman
terakhir dan Kira melihat tanda tangan Dimas dan ia menulis I’m Always There For You Kira . Kira seketika menangis meliahat tulisan itu,
mungkin karna ia tidak rela untuk di tinggal pergi oleh Dimas.
Dua jam Kira sudah menunggu Dimas yang tidak kunjung datang
dimas tidak pernah terlambat, padahal hari sudah mendung. Kira sudah beberapa
kali menelpon Dimas tapi tidak juga di jawab. Dan akhir hujan pun turun,
membasahi wajah Kira yang manis dan buku yang di bawa oleh Kira. Tiba-tiba
telpon kira berbunyi kring-kring telpon dari Dimas “ halo kakak, kak Dimas
dimana ? “ jawab Kira “ maaf yang punya telpon ini kecelakaan segera ke rumah sakit Dwi Satya “ seseorang
yang menelpon Kira. Kira langsung terduduk dan kakinya lemas gara-gara mendapat
telpon tersebut. Kira sudah tidak dapat membendung air matanya, ia menangis
sekencang kencang nya dan Kira berlari mencari taksi untuk ke rumah sakit
melihat Dimas walaupun seluruh tubuh Kira sudah basah kuyup karna hujan.
Setelah sampai di rumah sakit, Kira melihat Dimas di bawa
ke ruang UGD dengan berlumuran darah. Ternyata Dimas sebelum berangkat ke danau
ia lupa untuk mengecek motornya, dan ternyata rem motor nya tersebut blong.
Kira duduk terdiam melihat dokter memasang alat-alat ke tubuh Dimas. Setelah
dokter memasang alat-alat tersebut, dokter menyuruh Kira untuk masuk ke dalam
karena perintah Dimas. Kira masuk ke dalam ruang UGD dengan tangan gemetar
sambil menangis menatap Dimas dan langsung memegang tangannya. “apa yang sakit
kk ? “ Kira bertanya sambil menangis “ Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya
lalu Dimas menunjuk kotak yang berada di sebelah nya. “ apa itu kak ? “ Kira
langsung mengambil kotak tersebut dan membukanya, dan ternyata isinya sebuah
diary dan gelang untuk Kira. Kira tambah menangis setelah melihat nya. Kira
mengelus-ngelus kepala Dimas dan Dimas memegang tangan Kira dengan erat.
Sejenak Kira melihat Dimas menatapnya dengan penuh kasih namun Allah
berkehendak lain, ia lebih sayang kepada Dimas. Genggaman Dimas mulai melemah
dan terlepas, Kira tidak menangis lagi mungkin air matanya telah habis dan
tidak bisa berkata-kata apalagi.
Seminggu setelah Dimas pergi, gak ada lagi yang menabrak
nya saat membawa buku dari perpustakaan, gak ada lagi yang ngajak ke toko buku,
gak ada lagi yang ngajak ke danau, dan gak ada lagi yang menyapaku dengan
senyum manis mu itu.
Thanks for everything
Thanks for everyone
Thanks for always there
for me :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar